MARI BERSASTRA DAN BERKARYA

Di sini bukan arena pertarungan ala rimba, tapi coba setitik tinggal dilembah nurani sekedar menghisap tirta murni, sari pati puting ibu pertiwi dan cumbu illahi. Buat yang pernah berhenti dan mengajak menari, lalu dengan senyumnya yang tertinggal kembali melanjutkan perjalanannya tuk meraih sesuatu yang lebih berarti. Buat mereka semua yang mencoba jejakkan kakinya di tanah hati.

Sajak sebatang rokok

Sajak sebatang rokok

Kau sembul asap pengharapan
Dari wajah berpendar kerinduan
Samar kudapati siluet dibalik asap membuncah binal
Menjamahi pikiran-pikiran tanpa akal
Menggelayuti rasa tak berpangkal
          Pejantan tinggalkan kecupan pada leher angsa
          Hujaman asap pada ujung api sisakan setangkap cerita
          Pejantan - betina saling padu asmara
          Mengarungi samudera dunia
          Merajut harapan nyata
Tak cukuplah puas berkelana dalam pikirmu
Dibalik asap memandang wajah sendu
Senyuman sejuk misal jagad biru
Mata tajam bak sembilu
Tak cukup satu windu
Seumur hidup pun rasa tak mampu
Mengenalmu dari asap rokok itu


Talitha Nastiti Sakdullah

 Catatan : Dibuat kala melihat sang kekasih hati mencumbui si batang berapi. 29 agustus 2013

No comments:

Post a Comment